Seorang salik adalah seseorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan sufisme Islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya, yang disebut juga dengan jalan suluk. Dengan kata lain, seorang salik adalah seorang penempuh jalan suluk. Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu).
Untuk menjadi seorang salik, seorang muslim selama seumur hidupnya harus menjalani disiplin dalan melaksanakan syariat lahiriah sekaligus juga disiplin dalam menjalani syariat batiniah agama Islam. Seseorang tidak disebut sebagai seorang salik jika hanya menjalani salah satu disiplin tersebut.
Seorang salik juga disebut sebagai seorang murid ketika ia menjalani disiplin spiritual tersebut di bawah bimbingan guru sufi tertentu, atau dalam tarekat tertentu (wikipedia)
Kalau baca definisi Salik, lebih suka menyebutnya pejalan..karena berasa adventourous ya.
Kadang kita sudah takut sendiri ketika membaca definisi. Duh..bisa ga ya konsisten disiplin melaksanakan syariat Allah apalagi syariat batin.
Apa nanti harus menjauh dari 'dunia', apa nanti tidak boleh jadi orang kaya, apakah nanti jadinya harus diam di mesjid terus atau menimba ilmu agama terus di pesantren atau pengajian pengajian dan sejuta keluh (padahal kata Mursyid tak boleh mengeluh, itu yang akan 'menjatuhkan' seorang salik)
Jangan dulu overthinking dan sibuk mengeluh karena udah jelas kok bahwa kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu).
Allah kurang apa coba sama kita yang suka sok tahu, sok faham apa maksud Allah.
udah jelas kan, jalannya pasti dimudahkan bagi kita. Jadi jangan dulu bilang 'duh', serba takut dan ragu, belum mulai 'jalan' kok.
Alkisah ada seorang manusia yang awalnya skeptis, takut, tidak yakin..
Merasa berdebar debarlah karena melihat beberapa orang yang berada di jalan kesulukan ternyata hidupnya penuh dengan ujian (dalam versi penonton pastinya), misalnya terlihat menderita karena tetiba pindah ke daerah terpencil, terlihat sakit parah yang tidak jelas sakitnya apa, terlihat 'terlalu sederhana' dan banyak lagi..
Tapi ternyata ceritanya berbeda, setelah proses 'pencarian' kesana kemari, merasa resah, ikut kajian disana dan disini, masih merasa belum 'menemukan' .
Finally tetiba ada saja jalannya. Allah membolak balik hatinya, membukakan cakrawala pemikirannya, memberikan bukti bukti atas logika pencariannya. Dan akhirnya byur saja nyebur.. mentasbihkan diri menjadi pejalan - meski rasanya terlalu tinggi untuk menjadi pejalan. Berusaha memperlihatkan kesungguhan dengan berjanji pada Allah dan Rasul Nya untuk bersungguh sungguh menjalankan perintah Nya menjauhi larangan Nya, menisbatkan diri menjadi murid dari Mursyidnya karena merasa sangat bodoh sehingga berharap ada yang membimbing di jalan menuju Nya.
7 tahun dalam 'perjalanan' di akhir ramadhan yang akan datang
Bagaimana rasanya?
Katanya tidak seperti yang dilihat selama ini dari luar, ujian bagi setiap orang akan berbeda tergantung kadarnya. Yaa.. mirip di sekolah, anak TK tidak akan diuji dengan perhitungan kalkulus, dan anak SMA tidak akan diuji dengan baca tulis hitung.
Rasanya? ya seperti kita menjalani kehidupan, ada nangis , ketawa, sedih, senang, muram..tapi sekarang menjalani dengan cara yang berbeda. Kalau dulu diuji dengan sedikit kelaparan, sedikit kekurangan dan sedikit ketakutan akan mati maka akan nangis sampai mata bengkak, memohon yang terbaik dalam kacamata sendiri, tidak pernah berusaha untuk berhenti sejenak dan mencari hikmah dan bertanya apa maksud Allah atas ujian Nya, yang dirasa adalah dunia runtuh saja.
Kalau sekarang? rasanya perjalanan 7 tahun dengan berbagai ujian yang dipandang 'berat' dari kacamata dunia dan para netizen (ciee...) teralihkan dengan sibuk melakukan penghadapan kepada Nya, mencari cara agar bisa dekat dan didekatkan pada Nya dan hanya bermohon diberi kekuatan dan ujian itu adalah salah satu cara agar 'naik kelas'.
Jadi lupa dunia dan sibuk berdoa? tidak juga, malah rasanya bekerja semakin berusaha sebaik baiknya, karena mursyid kami selalu mendengungkan 'Berbakti lah pada Negeri', berikan penambahan untuk apa yang kau kerjakan, bila target pekerjaanmu adalah 10 maka tambahkan saja lebih dari 10 (tanpa perlu berharap bonus atau tambahan honor).
Yang jelas, ada yang berbeda, merasa lebih tenang menghadapi semua hal di dunia, kalaupun panik, yaaaa sebentar saja , manusiawi kok. Mungkin masih terlihat emosional, panik, sedih marah.. namanya juga sedang belajar. Tapi sudah sangat bersyukur karena jauh berbeda penghadapannya ketika kehilangan harta, jabatan, tahta atau apapun yang berbau dunia.
Jalan menuju Dia itu pasti banyak, for sure.
Mirip kalau kita jalan ke Jakarta misalnya, bisa lewat tol yang wusss cepat tapi pasti adrenalin rush karena kebut kebutan. Atau mau santai sambil tengok kiri kanan lihat pemandangan via puncak pass sambil mampir mampir dulu sana sini. Ada yang butuh guide untuk menunjukkan jalan, ada yang pegang google map saja cukup, ada yang jalan aja tanpa pengetahuan di mana Jakarta, yang penting jalan.
Bebas saja, yang penting menuju Dia, mendekat ke Dia, asal jangan kelamaan mampir, karena kita tak tahu hidup kita ini bakal berapa lama lagi. Jangan jangan belum seperberapa perjalanan sudah dipanggil oleh Nya...
*Tulisan pertama setelah terakhir menulis di tahun 2016 (di blog yang sudah lupa juga password dan emailnya)..
Comments