Pernahkah hasil kerja keras kita di kantor atau di rumah kurang mendapat penghargaan dari pimpinan atau keluarga?
Boro boro penghargaan, kadang malah hasil kerja bolak balik di evaluasi, atau kita yang sibuk mengerjakan di belakang layar tapi yang dapat 'tepuk tangan' yang presentasi di depan.
Komentar semacam 'masakan Ibu kurang enak' 'Bapak kurang kerja keras sehingga kita miskin terus' , atau keberhasilan kita yang selalu dibandingkan dengan prestasi saudara kita mewarnai pembicaraan di antara anggota keluarga .
Atau ketika kita sudah melakukan banyak kegiatan tanpa imbalan dunia dengan niat berdharma buat bangsa dan negara tapi kok ya 'sepi penghargaan', tidak ada yang mengucapkan terima kasih atas bantuan kita.
Kalau ditelisik di setiap aspek kehidupan, di dalam komunitas apapun tempat kita berinteraksi, banyak sekali hal hal yang kadang membuat kita akhirnya bereaksi negatif dengan merasa sedih, marah, mutung, dendam kemudian bersikap cuek, bodo amat, biarkan saja prestasi melorot toh tidak akan mendapat imbalan apa apa bahkan sekedar penghargaan atau tepukan di pundak pun tak ada.
Sejatinya ketika kita marah, kesal, dendam karena tidak mendapat penghargaan dari manusia itu sejatinya kita sedang dengan diuji oleh kalimat 'La Ila Ha Illallah' yang setiap hari kali kita dengungkan dalam sholat.
'Iya, saya mengakui kok Tuhan itu hanya Allah'
Tapi mari kita coba cek lagi,
Diatas kertas. dalam perbincangan atau di status medsos kita sering sesumbar, melakukan ini dan itu semata mata demi untuk Dia, ya semacam praktik dari 'La Ila Ha Illallah' itu.
Betulkah dalam kehidupan sehari hari sudahkah kita betul betul hanya menuhankan Allah yang satu itu?
Buktinya kita masih meng 'illah' kan jabatan kita dengan jumpalitan mempertahankan derajat di hadapan manusia dengan segala cara.
Kita masih meng 'illah' kan keluarga yang kita cintai mati matian, yang kita genggam erat untuk tetap selalu bersama, sehingga enggan berpisah memilih antara leyeh leyeh hari minggu bersama keluarga atau mencari ilmu.
Kita masih meng 'illah' kan cinta pada pasangan sehingga akan sangat terusik apabila 'kekuasaan kita' akan waktu dan hatinya mendapat pesaing.
Ketika kalimat Laa Illa Ha Illallah sudah menghujam dalam dada, mungkin tidak ada lagi rasa sedih, kesal, marah atau mutung ketika kita kurang dihargai sekitar, ketika kita tidak mendapat jabatan yang diinginkan, ketika kita tidak mendapat tepuk tangan podium juara.
Karena bagi mereka yang memurnikan tujuan hidup hanya pada Nya sudah cukup disibukkan untuk selalu merasa kurang melakukan sesuatu untuk Nya, merasa kurang sempurna dalam bekerja atau berdharma bakti bagi keluarga dan lingkungan sebagai jalan untuk menggapai Dia. Pasti akan merasa upaya yang dilakukan hanya butiran pasir sepermilimicron di hamparan padang pasir yang luas dibandingkan segala yang telah Dia anugrahkan. Bahkan mungkin mereka selalu ketakutan apabila dipuji, karena riya bak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam hari. Menyelusup dalam perasaan tanpa disadari, meporakporandakan niat awal kepada Nya menjadi kepada hal lain.
Lalu kita harus meninggalkan tanggung jawab pada pekerjaan, keluarga dan masyarakat kemudian beribadah tiada henti untuk menggapai Nya .
Tidak akan cukup 24 jam sehari, 7 hari seminggu bila kita akan 'membayar' karunia Nya dan menebus dosa dosa kita.
Minimal upaya kita adalah memurnikan kembali niat kita, ketika kita bekerja, berkegiatan bahkan berekreasi sekalipun hilangkan hal hal yang dapat menjadi illah baru bagi diri kita, apabila hawa nafsu amarah atau keluh mulai muncul dalam diri, mohon ampun dan kembalikan niat kepada Nya . Caranya dengan banyak bertafakur dan menguji serta mempertanyakan ke dalam diri sendiri.
Contohnya, bekerja mati matian untuk mendapat prestasi karena ingin berdakwah memperlihatkan bahwa bisa kok prestasi sambil tetap dekat dengan Nya, tapi cek lagi dan cek lagi niat kita? betulkah untuk dakwah? atau hanya legalisasi dari hawa nafsu akan kekuasaan dan pujian? . Betulkan liburan kali ini ingin membawa anak anak supaya lebih mengenal Allah melalui rekreasi /tadabur alam? ataukah akhirnya jadi lupa tujuan awal karena kesenangan dunia yang begitu melenakkan sehingga kadang jadwal main melupakan jadwal sholat. Betulkah kita memajang sejumlah piala dan prestasi di media sosial untuk niat kepada Nya atau diam diam memang kita senang dipuji dan mendapat sejuta like dari netizen?
Butuh strategi dalam melakukan penghadapan dan memurnikan tujuan kepada Allah, karena Syetan dan hawa nafsu tidak akan tinggal diam. Ibarat para dewa dalam cerita pewayangan yang mempunyai ilmu Mancolo Putra Mancolo Putri yang bisa merubah wujud aslinya sesuai dengan lingkungannya, syetan akan menyelinap dalam diri, membelokkan niat awal kita sehingga terlihat masih 'on the track' padahal sudah melenceng jauh.
Mungkin perlu dicoba tips ini, banyak bertafakur dan menguji serta mempertanyakan ke dalam diri sendiri.
Luangkan 15 menit saja waktu kita dalam satu hari, mungkin setelah sholat di waktu yang senggang, putar kembali film kejadian hari ini.
Apa yang kita lakukan, apa imbas dari perlakuan kita untuk orang lain, apa perasaan kita dalam berbagai kejadian hari ini.
Mohon ampunlah selalu atas ketidak konsistenan niat kita, atas perlakuan yang tidak semestinya kita lakukan hari ini, atau atas rasa yang timbul yang bukan rasa yang hak atas tujuan kita dan buatlah strategi 'perang' melawan syetan dan hawa nafsu di hari esok..
Alhamdulillah pencerahan qolbu yg sangat jelas, dan benar adanya dlm realisasi hidup masih banyak hal2 yg terkait fasilitas hidup dunia menjadi target capaian manusia, shg melupakan Sang Maha Kuasa sesungguhnya Allah SWT.
ReplyDeleteSesungguhnya hidupku,matiku hanya untuk Alloh... berulang-ulang dilafalkan ketika solat tapi berbanding terbalik dengan apa yang kita kerjakan...Masya Alloh makasih sudah diingatkan ♥️🙏
ReplyDeleteWaduuuh... saya banget.. Astagfirullah .. terima kasih sudah mengingatkan untuk meluruskan ni
ReplyDeleteسبحٰن الله
ReplyDelete