Tentang Anugrah itu





Betulkah memang saya berhak atas hidup yang baik baik saja dan keren ini?

Lho memangnya kenapa? engkau baik baik saja kan?

Iya,  tiba tiba saja quotes itu membuat saya berfikir lagi soal hidup saya. Hidup saya rasanya baik baik saja, siklus hidup saya diwarnai dengan kesuksesan -dalam versi saya, yang saya perjuangkan sejak kecil. Bersekolah dari mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi di sekolah sekolah ternama, kemudian tanpa berlama lama mencari kerja, sejak mahasiswa sudah dilamar menjadi asisten dosen dan  karir saya semakin menanjak dengan menjadi staf pengajar di sebuah Perguruan Tinggi terkenal di negeri ini serta menjadi founder bagi banyak organisasi. Diberi jodoh yang sangat cocok dengan saya, kemudian diberi anak anak dan rejeki yang dicukupkan sehingga saya merasa keinginan saya mudah dicapai.

Lalu ada apa dengan resahmu, engkau berhak dong menerima dan menikmati semua jerih payahmu? 

Iya, hidup saya rasanya tak banyak mendapatkan tantangan penderitaan yang berarti gitu. Apabila orang lain penuh dengan cerita jatuh bangun ketika menempuh studi , kesulitan ketika mencari jodoh atau berkali kali mengalami kegagalan dalam memenuhi penghidupan keluarga, rasanya saya pernah mengalami masa prihatin tapi tidak membuat saya menangis lebay berdarah darah atau menyesali kehidupan selama ini. 

Saya melalui masa remaja saya dengan menjadi aktivis sebuah mesjid terbesar di sebuah kota, jadi tidak pernah aneh aneh juga dalam bergaul. Rasanya dalam beragama juga saya tidak pernah melalaikan ibadah saya. Saya sholat, zakat, puasa, sudah berumrah beberapa kali dan beribadah haji, betul betul Allah beri kenikmatan hidup bagi saya. 

Tapi kenapa ya  kok barusan saya merasa bahwa dibalik bahagia dan kesenangan ini masih ada yang mengusik hati dan perasaan saya. Benarkah semua rejeki ini adalah hak saya? ataukah Allah sedang membiarkan saya atau membuat semua ini sebagai ujian bagi saya ? dilimpahi karir yang baik, istri dan anak yang menyejukkan hati, dibanggakan keluarga besar karena saya menjadi salah satu anak dari orang tua saya yang dinilai paling berhasil menjalani kehidupan dan karir, tapi kok rasanya perasaan saya masih resah, seperti masih ada yang kurang, entah apa.  

Coba ceritakan lebih dalam mengenai perasaanmu atas kenikmatan kemudahan yang Allah berikan itu? Adakah perasaan lain yang kau rasakan ?  

Mm..bukannya wajar ya rasa ini,  karena hidup saya lurus lurus saja, saya sering berbuat baik, saya orangnya senang melakukan kegiatan sosial, saya orangnya helpful, saya membanggakan orangtua saya  sehingga Allah memberikan kenikmatan dunia pada saya. Wajar kan ya usaha usaha saya selama ini diberi imbalan di dunia juga. I deserve to be happy...I have the right to have all of this.

Thats it, engkau resah karena jiwamu sedang mengetuk dirimu, mengingatkan  bahwa kau lupa kalau kita tidak sedang berdagang atau bertransaksi dengan Nya, bahwa kita melakukan semua perbuatan baik supaya diberi imbalan rejeki dan kemudahan oleh Allah. 

Dan engkau lupa semua hal pencapaianmu itu dan energi yang menggerakkanmu berbuat baik itu tidak ada yang lain hanya atas seijin Dia. 

Dan engkau akhirnya terjebak pada kebanggaan diri bahwa seluruh anugrah itu karena upayamu semata. Belum pernah kan menelisik, mengajar Dia 'bicara' menanyakan pada Nya penilaian atasmu seperti  apa ? jangan jangan kamu sedang menabung dosa berupa kesombongan dan kebanggaan mu atas kemudahan kemudahan itu dan kamu akhirnya terjebak merasa yang paling benar sendiri.

Kenapa engkau tersungkur?

Astagfirullah, ternyata itu, seperti mendapat pencerahan, saya jadi ingat bahwa saya kadang suka merasa paling baik dan benar karena kemudahan kemudahan yang diberikan dan karena profesi saya yang memberi pengajaran pada orang lain. Saya merasa pendapat saya itu yang paling benar, saya sulit melihat dari kacamata orang lain, bahkan saya sering kali berdebat tanpa henti dengan rekan seprofesi atau dengan orang lain. Saya merasa bahwa kebenaran ada dalam pikiran saya dan harus mempertahankan itu tanpa menyempatkan diri merenungkan apa yang diperdebatkan selama ini.

Dan Selena Gomez salah besar, saya tak berhak atas apapun, atas keindahan dunia, atas nikmat dunia bahkan saya tak berhak merasa bahagia tanpa ijin dan kuasa dari Nya...  

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).Al Imran : 14 



Comments