Mereka kembali dengan kehebohan karena fenomena yang tidak masuk di akal ini, berbagai teori bermunculan dari mulai kemunculan Alien, time tunnel sampai terowongan intergalaktik bernama wormhole
Para penumpang 828 menjalani hidup selanjutnya dengan berbagai fenomena aneh yang menimpa mereka. Hampir semua penumpang tetiba sering merasa mendengar suara-suara atau melihat gambaran petunjuk tentang sesuatu, apakah potongan tulisan atau adegan atau bisikan seperti 'jangan ke sana', 'selamatkan dia' yang terbukti memang di beberapa bagian menyelamatkan nyawa orang lain atau dirinya sendiri.
Yang jelas dari berpuluh episode di film Manifest ini menggambarkan bagaimana aktor aktor utama terjebak dalam mengartikan petunjuk sehingga yang mereka kira perbuatannya benar ternyata beresiko membahayakan jiwa lain atau ternyata maksud petunjuk tersebut harus ditafsirkan lebih dalam.
Menariknya,fenomena film hollywood sudah mulai bicara aspek yang selama ini dianggap tidak logis, yang sulit ditangkap nalar seperti hal hal gaib yang dimulai dari sekuel 'lord of the ring'. sampai OA yang bercerita tentang near death experience mulai bertebaran di layar TV digital. Bahkan dalam Manifest di season ke 3 mulai muncul fenomena semacam karma, ressurection dan tentang mengubah takdir hidup atas dasar petunjuk yang didapatkan.
Beberapa fenomena yang ramai didiskusikan di ruang ruang kajian salah satunya adalah memahami petunjuk yang datang pada seseorang. Dalam ajaran Islam, sudah jelas dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa Allah memberi petunjuk pada orang yang dikehendaki.
[6:149] Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya".
Maka fenomena 'mendapat petunjuk' bisa jadi pernah Allah berikan pada siapapun yang Dia kehendaki, mungkin berupa mimpi, de ja vu, atau 'firasat' yang sangat kuat. Ge er saja sudah jadi umat Nya yang terpilih diberi petunjuk oleh Nya.
Tapi, tak semudah itu Rudolfo, memahami bahwa petunjuk itu benar benar dari Allah, apalagi kita manusia yang rumit seperti benang kusut. Ada obsesi, ada hawa nafsu, ada keinginan, ada rasa diri yang kadang membuat pertimbangan kita menjadi bias kala merasa mendapat petunjuk.
Lantas bagaimana memastikan bahwa ini petunjuk dari Allah dan bukan dari obsesi kita atau bisikan syetan, bagaimana mengartikan petunjuk yang hadir bahwa Allah sebagai sang sutradara utama meminta kita para boneka ini bergerak kesana atau kemari, melakukan ini atau itu, memilih jalan yang Dia minta kita jalani?
Ini beberapa kuncinya
Pertama,
Barangsiapa mendapatkan petunjuk (dari Allah), maka sesungguhnya (petunjuk) itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul (Al-Isra' 17:15)
Jadi adab yang paling utama, bahwa petunjuk itu adalah untuk diri sendiri. Apapun yang kita dapatkan dari Allah dalam bentuk apapun selaiknya adalah untuk diri kita sendiri. Pun apabila kita mendapatkan petunjuk untuk menyelamatkan orang lain atau menyadarkan orang lain tapi orang tersebut tidak mempercayainya maka pada prinsipnya kita telah menyelamatkan diri kita sendiri.
Kedua,
Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui (Annahl 16:43)
Allah sudah sangat jelas memberi petunjuk bahwa apabila kita bingung, tidak faham, tidak mengerti maksud sebuah petunjuk, maka bertanyalah kepada orang yang lebih mengetahui (para ahli dzikir).
Maka PR selanjutnya adalah, bagaimana mencari dan menemukan sang guru sejati....
Happy hunting !
* Referensi untuk baca baca di rumah : Guru Sejati dan Muridnya (M.R Bawa Muhaiyaddeen)
Bagaimana mendapatkan guru sejati ?
ReplyDeleteAl-Baqarah 2:213
Deleteكَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
*Manusia itu (dahulunya) satu umat.* Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka *Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan*. Dan *yang berselisih hanyalah orang-orang* yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, *karena kedengkian di antara mereka sendiri.* Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. *Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.*
Semua ayat mengatakan bahwa petunjuk kebenaran itu adalah atas kehendak Nya. Namun Sang Maha Petunjuk tidak pernah berhenti memberikan bukti2 kebenaran tersebut kepada hamba Nya melalui semua ciptaan Nya termasuk utusan Nya, wali Mursyid.
Nah... Yg jadi masalah sekarang adalah perspektif kita sering menyatakan *"Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang tsb seorang Mursyid ?"*. Pernyataan tsb tidak akan pernah klop dg ayat diatas karena perspektif nya berbeda.
Pernyataan yg relevan dg ayat tsb adalah *"Sudahkah kita terlepas dari rasa kedengkian dan ragu2 terhadap bukti2 kebenaran Nya melalui utusan Nya(Mursyid)?"*
Terlihat perbedaan mendasar 2 pernyataan tsb, yg pertama, mengamati diluar dirinya. Yg kedua, mengamati kedalam dirinya.
Kebenaran itu selalu tampak di hadapan kita, namun tak terlihat karena kita menutup diri baik disadari maupun tidak disadari.
Semoga dipahami
Wallaahu a'lam bis showab