Suatu hari, di suatu masa, di suatu tempat
Ia seperti bangun dari tidur panjang, setelah bertahun tahun menghabiskan tiga perempat usianya dengan menjelajah jalan berliku yang tidak terdeteksi di google map, mengarungi kedalaman lautan dan arus sungai yang deras, berpacu dalam kecepatan tingkat tinggi atau melompat dari ketinggian tebing dengan hanya berpegang pada seutas tali. Betulkah karena faktor alamiah adrenalin? terus tujuannya apa? Betulkah itu tugas yang diberikan Tuhan Nya ?
Bersyukur ada 'sekolah' yang membawa pada pengetahuan dan kesadaran yang berbeda, saat ia mulai berkomitmen untuk selalu berada di jalan Nya dengan menjadi pejalan yang hanya meng illah kan Dia.
Maka hal-hal yang sudah terbiasa dilakukan mulai mengusik pikirannya, menyentuh kesadaran, membawa keresahan, ada apa di balik kemudahan dalam menjelajah dan berpetualang serta melakukan puluhan kegiatan secara bersamaan dengan dalih 'saya bisa multitasking', 'saya tidak mempercayai orang lain melakukan beberapa pekerjaan tanpa ada saya'
Maka ia mencoba melakukan kegiatannya dengan cara baru, menganggap sudah meluruskan kembali niat. Tetap bepergian ke pelosok, tetap blusukan menikmati keindahan budaya Indonesia, tetap menjajal kegiatan kegiatan ekstrim diwarnai petualangan kuliner di sepanjang jalan, tetap melakukan berbagai kegiatan di saat bersamaan.
Ia merasa sudah 'aman' karena merasa sudah melakukan dengan cara berbeda dengan niat yang menjadi lebih benar misalnya 'membagikan bantuan sembako untuk yang berkekurangan di pelosok sana', membahagiakan bapak ibu yang bekerja di kebun teh nun jauh di pegunungan, memberi sehelai sarung untuk sholat ied bagi para nelayan, ingin menambah amal sholeh dengan melakukan seabrek kegiatan sosial. Diam diam timbul rasa bangga pada diri karena merasa menciptakan visi baru dalam berkegiatan dan berpetualang.
Namun Dia ternyata punya cara untuk memurnikan niat dan tujuan manusia.
Ada raga dengan keterbatasannya, dan manusia dengan kemampuan imajinasinya melampaui keterbatasan sehingga kadang terlupa pada kadar diri. Ia pun tersungkur didera demam berkepanjangan, diterpa sakit yang tak terdeskripsikan sehingga tim medis pun mengkategorikan pada autoimun. Trombosit yang normalnya diatas 100.000 meluncur drastis hingga 1000 dengan kekhawatiran perdarahan spontan yang dapat terjadi secara tiba tiba.
Maka kehidupan mulai berubah, sehari hari dihabiskan di ranjang rumah sakit sambil menonton berbagai analisa yang berseliweran dari tim medis. Khauf dan raja (harap dan cemas), berpadu bergantian mengisi hari hari, berharap hari ini angka hasil laboratorium meningkat. Kemudian cemas mendera ketika harapan dan doa yang semakin kencang dipanjatkan tidak terkabul seperti yang diinginkan. Ingin segera sembuh, ingin segera kembali berkegiatan karena banyak kegiatan yang menunggu sentuhan dia kembali.
Laiknya manusia yang mengagungkan kemampuan berfikir dan logika, maka kesibukan googling, diskusi di grup para penyintas dan mencari sejumlah informasi menjadi kesibukan baru di ranjang rumah sakit.
Ada yang terlupa, ada Dia bersemayam di ar rasy yang menunggu ia mulai memahami langkah yang dilakukan raganya selama ini, mulai membelajarkan cara menimbang dan mengkadar diri dan niat. Ia terlupa bahwa doa pun harus dipanjatkan dengan cara yang baik, dengan pemahaman akan apa maksud Allah padanya.
Segala puji bagi Engkau yang dengan kasih sayang Mu saja yang pada akhirnya 'menarik' kesadarannya untuk mencari kembali apa tugas sejati dirinya selama ini yang telah ditetapkan oleh Dia. Dengan sakit pada raga ini adalah pengingat bahwa ada yang telah berlebih dalam mengkadar dan ada yang salah dengan cara melakukan hal hal yang dianggap sebagai dharma nya. Ia terlupa bahwa ketika Allah memberi pertanda dalam bentuk sakit karena kelelahan itu adalah sinyal yang sangat kuat bahwa Dia tengah mengajak berbicara, mengajak ia menganalisa kehidupannya kembali, menakar kembali niatnya selama ini. Ia lupa bahwa seekor kuda tunggangan sekalipun diciptakan sesuai dengan bentuk tubuhnya. Seekor kuda balap dengan badan yang kekar dan kaki yang panjang memang diciptakan untuk berlari kencang. Berbeda dengan kuda poni dengan ukuran tubuh kecil gempal dan penampilan yang cantik yang bertugas membahagiakan anak anak dengan berjalan pelan mengelilingi lapangan rumput.
Jadi apa dharma sejatinya? apa yang Allah tugaskan untuk nya?
Setiap diri memiliki Darma Sejati - Tugas Sejati-nya , sesuai Tujuan Penciptaan Setiap Diri Manusia yang Allah SWT tetapkan bagi-nya , maka untuk tujuan penciptaan setiap diri manusia Allah anugrahkan Kemudahan-Kemudahan bagi-nya dalam melaksanakan Tugas Sejati-nya
Hadist Shahih Riwayat Bukhari No 1777 & No 2026
wallahu a'lam bishawab
hanya bisa bergantung pada tali Allah, terus bermohon ampun dan bermohon diberi pemahaman dan dimudahkan dalam menjalani darma sejati yang ditetapkan oleh Nya.
Comments
Post a Comment