![]() |
| Pixabai.com |
Menarik ketika menemukan adanya makna tersembunyi di balik elemen budaya seperti syair, pantun, pertunjukan wayang, tarian, upacara adat yang sarat dengan makna dibalik yang terpampang di permukaan.
Padahal zaman now yang semuanya serba cepat terutama dalam mencari informasi dengan bantuan internet pasti bikin kita gemes, ga sabar, penasaran. Kita tidak sabar ingin tahu maksud ajaran dibalik penokohan wayang dan ada apa dibalik pantun atau syair syair yang disajikan dalam bahasa mendayu dayu penuh keindahan namun terlihat njlimet.
No wonder anak anak milenials cenderung tidak suka nonton wayang, pertunjukan adat atau mengulik syair karena membutuhkan perenungan, waktu yang lama dan tidak dengan mudah menangkap makna tersembunyi. Contohnya dalam kisah Dewa Ruci, makna sang Bima sedang berperang melawan syahwat digambarkan dengan berperang melawan raksasa. Timbul pertanyaan, mengapa perang melawan hawa nafsu dilambangkan dengan bertarung melawan naga raksasa? Mengapa orang jaman dulu menyembunyikan makna dan ajaran dalam kisah kisah, upacara adat, pertunjukan dan syair syair?
Barangkali leluhur kita selalu berprinsip “Selalu berikan kail, dan jangan sekali-sekali kau beri ikannya”! Dalam istilah Jawa Timuran, kita kenal tag line “Jer Basuki Mawa Bea”. Kalau mau hidup mulia, orang harus berusaha. Jangan rebahan saja, dan berharap durian runtuh!
Mari berandai andai. Coba kalau makna ajaran leluhur itu “diumbar” begitu saja, dan semua orang langsung paham tanpa perlu upaya-upaya khusus? Apa jadinya kalau orang yang bermalas-malasan dan orang-orang jahat tiba-tiba menguasai ilmu luhur. Aneh bukan? Memang ada orang jahat yang bijaksana?
Bisa jadi karena itulah ajaran luhur itu selalu tersembunyi. Dan hanya orang-orang dengan kualifikasi tertentu sajalah yang sanggup menguaknya. Makanya ga perlu perlu gemes lagi kalau belum memahami ajaran leluhur. Kalau memang belum sanggup, mungkin 'wadah kita yang belum siap menerima'
Disinyalir, dengan alasan itu pulalah mengapa leluhur kita selalu mengajarkan “Ngelmu kanthi Laku”. Ilmu yang angel (susah) sebelum ketemu hanya akan diketemukan makna sejatinya setelah kita melakukannya. Setelah kita walk the talk. Kalau hanya berteori, kalau hanya omdo, tidak mungkin kita menemukan makna sejatinya, learning by doing and learning by process.
Filosofi “makna tersembunyi” juga mengajarkan kepada kita untuk tidak berpikir di permukaan saja. Karena menyadari bahwa selalu ada makna yang tersembunyi, kita tidak akan mudah berkomentar secara instan. Kita akan selalu berpikir ulang sebelum berkomentar. “Jangan-jangan pemahaman saya masih salah, jangan-jangan ada makna tersembunyi yang belum saya pahami, mungkin ada hal tertentu yang menjadi alasan dari sebuah kejadian yang tidak tercerap oleh kita..
Mungkin perlu sesekali tarik rem dalam kecepatan mencerap informasi di zaman yang serba mudah, cepat dan instan dengan mulai mencari makna tersembunyi dari berbagai hal yang kita temukan dan alami.
Santai sejenak, gunakan waktu untuk merenung mencari makna sambil ngopi cantik. Mudah mudahan bisa membawa kita jadi belajar sabar menemukan makna dan tidak mudah memberi judgement atau penghakiman atas kejadian kejadian.
Toh pada akhirnya yang Maha Tahu dan pencipta skenario gonjang ganjing dunia sampai gempa di masing masing diri manusia adalah Dia yang Maha Agung. Betul ga sih ?

Comments
Post a Comment