'Kurangilah Mang harganya, mahal amat'. Seorang pembeli menghabiskan waktu bermenit menit untuk menawar sayuran kepada seorang pedagang di pasar. Setelah pergulatan yang sengit akhirnya sang pedagang dan pembeli bersepakat dengan harga. 'Bonusnya dong' 'tambahin dikit lah timbangannya', kalimat pamungkas dari sang pembeli membuat sang pedagang tak berkutik, hanya bisa pasrah sambil mengomel dalam hati, 'Duh boro boro ambil untung dengan ngurangin timbangan, yang ada ditawar abis plus harus kasih bonus'.
Dan sang pembeli berlalu dengan rasa puas, berhasil mengirit seperak dua perak hari ini.. siapa tahu cita cita punya rumah sendiri bakal segera tercapai dengan berlaku hemat.
Kamu mengerti aku dong! Aku kan sudah berusaha dengan keras, banting tulang dari pagi sampai malam, tapi kamu masih menuntut aku dengan sejuta tuntutan'. Sang suami mengernyitkan dahi, dan sang istri memilih menghindar dan merasa terabaikan. keinginan sang istri bahwa sang suami mengerti bahwa ia pun lelah dengan cucian bertumpuk, setrikaan menggunung dan anak yang bolak balik tantrum meminta perhatian bapaknya. Mbok ya ada waktu berkumpul bersama sesekali agar anaknya bisa merasakan kasih sayang ayahnya, aku juga kan butuh 'me time', sang istri menggerutu dalam hati.
Kenapa sih manager ku tidak mengerti kalau aku baru saja beranjak mengerjakan pekerjaan yang dia minta tadi pagi, eh sekarang sudah kasih list pekerjaan lain..aku ini kerja bagai kuda deh .Seorang karyawan misuh misuh curcol di chat room pada teman alumni SMA nya sambil membereskan berkas menumpuk yang tak kunjung selesai di input.
Sementara di cubicle nya sang manager pun berkeluh kesah menganggap bawahannya tak cukup cepat, tak cukup tangkas dan tak cukup rapi mengerjakan pekerjaannya.
Suka bingung ya, musti diapain kalau seperti ini kejadiannya ? semua pihak ingin bahagia, ingin dimengerti oleh orang lain, inginnya keinginannya diwadahi oleh orang lain. Dan semakin blunder ketika saling mencari siapa yang salah..
Celakalah bagi orang orang yang curang (dalam menakar dan menimbang) !. Yaitu orang orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain) mereka mengurangi (Al Mutafifin 1-3)
Ternyata ini kuncinya, kemampuan dalam menakar dan menimbang, pada akhirnya bukan hanya di urusan perdagangan
Ketika kita tidak mampu menakar dan menimbang dengan baik, maka ketergelinciran ketergelinciran akan terjadi. ketika kita tak mampu menakar maka kita akan cenderung menuntut orang lain memenuhi apa yang kita inginkan tapi kita tidak mampu juga menimbang apa yang kita sudah lakukan, sehingga kita tanpa sadar berlaku curang karena kita sendiri mengurangi apa yang harus kita berikan pada orang lain. Vice versa, ini berlaku juga pada pihak yang menjadi pasangan kita, sang pedagang dengan pembeli, sang suami dengan istri, pekerja dengan atasannya.
Maka ketika kedua pihak tidak mampu menakar dan menimbang diri masing masing terhadap pasangannya, maka yang terjadi adalah bencana miskom, kemarahan, kekecewaan merasa dicurangi, merasa hidup ini tidak adil dan diakhiri dengan uraian air mata ketika hujan tiba (lebay.com).
Dunia akan jauh lebih berwarna, hujan jadi terasa indah ketika prinsipnya dibalik, kita memberikan yang ada dalam diri kita sekuat tenaga untuk membahagiakan orang lain. Tidak perlu menghitung seberapa banyak yang kita dapatkan dari pasangan kita, karena kita tidak sedang berdagang dengan mereka. Sejatinya kita sedang merayu Allah untuk membuat Dia juga senang dan pada akhirnya menyayangi kita ketika kita berusaha menyenangkan yang di bumi.
Indah ya, kalau tanpa 'pakai eyel eyelan' tetiba di pasar sang pembeli tanpa perlu menawar sudah diberikan harga terbaik yang tidak saling memberatkan oleh sang pedagang sehingga tanpa diminta di akhir akad jual beli terlontar 'ambil aja kembaliannya Mang'.
Sang istri akhirnya memahami perjuangan suaminya di luar sana memenuhi penghidupan untuk dirinya dan anak anak. Tidak ada yang melarang kan untuk memberi rejeki pada laundry sebelah rumah 'membantu' membereskan cucian sehingga ketika sang suami pulang tidak perlu membantu membereskan rumah karena sudah rapi jali. Sang suami yang merasa lelahnya menjadi terbayar pun berusaha menimbang dan memahami kelelahan pekerjaan istri di rumah dan pada akhirnya ingin berusaha mengatur ritme kerja sehingga dapat memberi ruang untuk membahagiakan istrinya dengan berinisiatif mengajak berkumpul dan refreshing bersama keluarga
Sang karyawan yang sangat ingin memberikan yang terbaik pada pimpinan berusaha memahami target perusahaan, mengurangi waktu chat dengan teman di waktu kerja dan mencari cara bekerja yang efektif. Ia mengevaluasi kembali waktu kerjanya, ternyata sebagian besar waktu kerja kadang dihabiskan dengan mengobrol dengan rekan kerja atau chatting dengan teman, Demikian pula sang manager, akan menimbang sebelum melontarkan amarah, menganalisa dahulu apakah target pekerjaan terlalu berat untuk karyawannya, apakah karyawannya sedang sakit atau sedang ada masalah sehingga kinerjanya menurun.
ini koentji lainnya
Sayangilah yang di bumi, niscaya engkau akan disayang yang di langit'

Masya Allah 🥺🥺🥺
ReplyDelete