![]() |
| wthr.com |
Konon, sebelum dilahirkan ke dunia, setiap jiwa manusia telah bersaksi di hadapan Tuhan di Alam Alastu, di Alam Persaksian. "Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Kemudian manusia menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” Setelah selesai bersaksi, jiwa manusia pun diturunkan ke alam rahim untuk bersatu dengan raganya di rahim Ibunda. Setelah bertumbuh selama 7x40 hari alias 9 bulan, dan telah ditetapkan takdirnya untuk 4 perkara, maka manusia pun turun ke bumi untuk menjadi Khalifah Pemakmur Bumi.
Ketika lahir ke dunia, manusia telah berpindah alam sebanyak 2 kali. Dari alam alastu berpindah ke alam rahim, kemudian berpindah lagi ke alam dunia. Perpindahan alam itu membuat manusia lupa dengan persaksian yang pernah dilakukannya.
Banyak manusia lupa, apa yang pernah mereka perjanjikan di hadapan Tuhan sebelum diturunkan ke dunia.
Manusia lupa apa misi hidupnya sebagai khalifah pemakmur bumi. Manusia lupa siapa dirinya yang sejati, sehingga tidak lagi mengenal Tuhannya.
Bukankah, "Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu"? Barang siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya...
Untuk kembali mengenal dirinya dan misi hidupnya, Tuhan tidak begitu saja memberikan ikan kepada manusia. Tuhan tidak begitu saja memberi tahu manusia siapa dirinya, apa tugas yang diembannya, dan potensi apa yang telah diberikan untuk menjalankan misi hidupnya itu.
Manusia harus mencarinya sendiri. Tuhan telah memberi manusia dengan akal dan berbagai petunjuk. Yang harus dilakukan manusia hanyalah iqra, membaca, mengamati, niteni semua kejadian yang dia alami untuk mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya.
Proses mengenal diri adalah sebuah perjalanan yang penuh suka dan duka dan semuanya penuh hikmah dan pengajaran dari Allah Swt. Semuanya terpulang kepada manusianya sendiri, apakah membuatnya semakin mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya atau membuatnya semakin lari menjauh.
Konon, manusia akan semakin mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya apabila mereka selalu bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah kepada dirinya, dan selalu bersabar ketika Allah mengujinya dengan berbagai kesulitan.
Tetapi, sebaliknya, manusia justru akan semakin jauh dengan Tuhannya ketika mereka menjadi sombong ketika diberi kenikmatan, dan mengeluh ketika diberi ujian. Apakah kita bisa bersyukur dan bersabar?
Mengapa Tuhan memberi kail? Konon, Tuhan memberi kail karena ingin manusia belajar melalui proses. Proses itulah yang membuat manusia pandai jiwanya dan pandai raganya.

Comments
Post a Comment