Saya yang tetiba ada di depan panggung sederhana ini mencari cari tagline dari pertunjukan Sendratari ini..
'Satriya Gandrung, perjalanan sang Diri dalam menemukan Jiwanya'
wuih apa pula ini...pandangan meluncur Tagline yang tercantum di salah satu sudut ruang. Tumben di tahun 2022 ini ada sendratari sarat makna seperti ini.. lah kan biasanya kita hanya bisa lihat di Prambanan atau Bali saja. Penasaran, saya mulai mencari arti kata gandrung
gandrung1/gan·drung/ a 1 sangat rindu (kasih) akan; tergila-gila karena asmara; 2 sangat ingin (mendambakan):
awalnya saya membayangkan ini pasti cerita menemukan belahan hati, jatuh cinta seorang tokoh yang diperankan penari cantik pada sesuatu atau seseorang..dan biasanya diakhiri dengan patah hati *klise ala drama korea.
Ternyata jauh dari perkiraan, ketika sang narator mulai menceritakan inti sendratari berpadu dengan pertunjukan apik di panggung.
Ini adalah sebuah pertunjukan yang menceritakan perjalanan spiritual seorang manusia untuk untuk membersihkan jiwanya. Diawali ketika dia harus mengendalikan hawa nafsu yang berhubungan dengan syahwat.. kesenangan dan terpenjara oleh nikmat dunia.
widiw...telak juga tersindir nih, sambil menchek itenerary yang sudah disusun bareng genk YOLO (youre only live once) yang hobi bersenang senang laiknya hidup hanya sekali saja. Saya mulai merenung, duh inikah saya yang terjebak pada nikmat dunia ?
Saya yang paling anti nonton sendratari dan wayang mulai mencari posisi duduk yang enak, tergelitik rasa penasaran menunggu kelanjutan sang narator dalam menterjemahkan gerakan sang penari.
Seseorang di sebelah saya berbisik, pantesan keren gitu, la wong penari kelas internasional yang biasa keliling dunia bersama grup tari sunda terkenal di Bandung.
Woho..pantas seluruh gerakannya sangat menjiwai dan menggambarkan cerita yang sedang diperankannya (padahal baru latihan sehari katanya !!). Dengan gemulai sang Penari memperlihatkan 'perjuangannya' sebagai sang Diri dalam menaklukan syahwat yang diumpamakan dengan selendang merah yang digunakannya.
Tetiba gerakan sang penari mulai berubah, dengan kepala tengadah dan gerakan kaki menjejak kuat, ekspresi wajah angkuh dan mengibaskan selendang berwarna hitam sebagai simbol amarah yang ditampilkan dengan sangat apik dan penghayatan total.
Ini adalah ketika Diri dikuasai 'nafs amarah', mudah murka, senang menyombongkan dan membanggakan diri. Merasa bahwa diri yang paling baik, paling benar, paling cakap, paling berkuasa dan tersinggung kala orang lain menyinggung ke ego an diri.
Waduh saya kena kick sang narator lagi nih. Saya mulai mengingat ingat kembali segala amarah dan dendam yang lama berkecamuk di hati. Bayangan kesombongan dan merasa jumawa dengan segala yang telah dicapai bermunculan dalam benak. Rasa yang diperankan oleh sang Penari mirip sekali dengan beberapa scene dalam hidup.
Selanjutnya, tarian pun berlanjut untuk menggambarkan Sang Diri yang memanggul beban kehidupan yang berat, disertai kekhawatiran yang berlebihan karena belum sanggup mengendalikan Nafs Lawamah yang disimbolkan dengan selendang berwarna kuning.
Saya pun merasakan perasaan sang penari yang menjiwai beratnya beban kehidupan dengan berjalan tertatih tatih. Bukankah kita sering merasa demikian?
Merasa sesak dan perasaan tercabik ketika diri terhimpit berbagai masalah dari mulai masalah di pekerjaan, keluarga yang berseteru, rejeki yang rasanya selalu menjauh, jodoh yang tak kunjung tiba dan musibah sakit yang bertubi tubi hadir.
Ah pertunjukan macam apa ini, yang membuat mata tetiba berkaca kaca...
Adegan beralih,
Diri yang diperankan sang penari perlahan-lahan mampu mengendalikan ketiga nafs tersebut, dan tiba tiba muncul pemeran baru yang oleh narator disebut sebagai Sang Jiwa
Sang Jiwa, yang diperankan oleh seorang yang tuli sejak bayi, mulai memberikan mendengar nasihat-nasihat kepada Sang Hamba dengan bahasa isyarat.
Wow fenomena apa ini..saya semakin terheran heran, apakah jiwa itu? kok bisa sih Jiwa memberi 'nasihat' pada sang Diri. Apa ini mirip dengan ketika kita berbicara dengan diri sendiri? berkecamuk pertanyaan dalam diri .
Saya mulai menyenggol teman sebelah, meluncurkan pertanyaan pertanyaan tersebut.
Sambil tersenyum lembut, dia hanya menjawab 'Jiwa dan raga itu bak kuda dan tunggangannya, jiwa adalah sang penunggang dan raga itu seharusnya adalah seperti seorang kuda. Jiwa yang akan tetap hidup ketika ragamu mati, dan jiwa akan selalu membawa pada kebaikan ketika ragamu meronta ronta menginginkan rumput dan kesenangan fisik . Jiwa selalu memberi isyarat dan petunjuk supaya ragamu selalu menuju Allah, hanya kadang raga tak mengerti isyarat yang diberi jiwa
Oalah..saya mengangguk angguk sambil kembali mengalihkan pandangan ke panggung. Betul betul pertunjukan ini sarat makna.
Saya tercenung melihat bagaimana seorang wanita tuli pemeran sang Jiwa bisa begitu total dan larut dalam menghayati perannya. Gerakannya bisa begitu padu dengan iringan tembang, alunan keyboard, bedug dan biola yang mendayu-dayu. Padahal dia sama sekali tidak dapat mendengar.
Adegan terus bergulir, keharuan semakin menyengat sejalan dengan timbul kesadaran dalam diri akan dosa selama ini. Betapa diri ini tak mampu mengendalikan syahwat, amarah dan rasa berat dalam menjalani hidup.
Sayup sayup alunan tembang jawa dan shalawat nabi menyertai adegan dan suasana yang semakin khidmat. Sang Narator menterjemahkan isi dari tembang yang dilantunkan bahwa dalam tembang macapat itu menjadi memberi pesan bahwa seseorang yang telah mencapai puncak perjalanan spiritualnya hendaklah mampu menjadi teladan dalam kehidupannya sehari-hari, meneladani sikap Rasulullah Saw
Dan saya tetiba teringat ayat ini
Al-Ahzab 33:21
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
Dan mata ini semakin berkaca kaca...


Comments
Post a Comment