Memandang dengan lebih jernih


Nicole avagliano (unsplash)

Pernah naik kapal?  

Berlayar selalu membawa rasa suka hati karena kita menuju cakrawala,  mengejar matahari terbenam di pelupuk mata. Betulkah sang mentari ada di ujung sana?  ternyata bila kita kejar, tak ada garis ujung tempat sang mentari tenggelam,  dan betul bahwa ternyata dunia tidak datar. Mata kita memerangkap kita, membawa persepsi kita bahwa di ujung sana akan ditemukan sang mentari.  

Sang guru membuka hari dengan tiba tiba bercakap soal cakrawala 

Para murid, yang masih terkantuk kantuk di shubuh yang dingin di sebuah pesantren di kaki gunung sontak terbangun. 

Ada apa gerangan tentang cakrawala, tak memahami maksud sang Guru.

Jadi maksudnya bagaimana ini, guru..

Ya itulah raga kita, itulah pikiran kita yang masih tercampuri dengan berbagai hal seperti obsesi dan hawa nafsu. Obsesi ingin menggapai matahari yang terlihat dekat dan bisa dijangkau dengan fisik kita. Apa yang kita pandang selama ini di depan mata, fenomena yang bertebaran yang di tangkap oleh mata kita itu sejatinya secara hakikat belum tentu seperti itu.

Ketika kita melihat sebuah gelas berisi air, kemudian kamu masukkan sebuah sedotan ke dalam gelas tersebut, maka ilusi akan membuat mata kita tertipu, sedotan terlihat bengkok padahal pada nyatanya tidak bengkok.

Kalau saja kita se zaman dengan para nabi, apa pendapat kita ketika melihat Maryam yang suci melahirkan Isa,  Musa yang melubangi perahu atau Ibrahim yang 'tega' meninggalkan istri dan anak di tengah padang pasir kemudian mengorbankan Ismail ? 

Laiknya melihat cakrawala, kita mempersepsi dengan 'tipuan' pandangan mata dan pendapat kita. Bisa jadi kita akan menganggap para orang suci itu adalah manusia biadab atau Maryam seorang penzina yang diam diam berhubungan dengan seorang pria.

Maka, belajarlah melihat sesuatu tidak hanya dari aspek luar atau raga saja tetapi mengasah jiwa dan rasa dalam diri menjadi penting. Bila kita melihat apapun as it is atau dengan mata raga maka laiknya seekor kuda melihat rumput hanya melihatnya sebagai makanan yang menimbulkan rasa lapar. 

Tunggu sejenak dan coba melihat dengan lebih dalam memakai 'rasa' maka akan berbeda penangkapan kita. Bisa jadi keindahan rerumputan yang terlihat, binatang binatang kecil yang tersembunyi di balik rerumputan beserta kehidupannya. Maka akan berbeda jauh penangkapan secara raga dibandingkan dengan aspek rasa. 

Belajar melihat dimensi lain dari fenomena dalam kehidupan  seperti melihat sebuah gambar 3 dimensi, warna warni yang terlihat di permukaan ternyata menyembunyikan hal indah. Bila kita berhenti sejenak, melihat dan menelisik lebih jauh, mencari makna di balik kejadian maka bisa jadi cara kita memberi penilaian terhadap sesuatu kejadian. 

Maka, rasa rasanya tidak laik kita dengan membabi buta memberi labelling, menilai orang lain dengan segala prilakunya dengan serta merta. Kita tidak pernah tahu alasan dibalik semua perbuatan yang terlihat, kita tidak pernah bisa melihat gambar sebenarnya dari balik warna warni karena ketergesaan kita ketika memandang orang lain. Bahkan kita tidak pernah tahu rahasia Allah atas takdir Nya pada setiap orang pun bagi kita sendiri.

It's up to God to do the judging. You Haven't walked in my boots, so how are you going to judge me (Aaron Neville)



Comments