Ketulusan yang sebenarnya


Kapan terakhir kali makan enak ? yang sangaaat nikmat sampai sampai remah terakhir kita nikmati di atas piring yang bersih tandas bahkan sampai menjilat jari jari tangan menikmati sisa cita rasa bumbu makanan tersebut. Apalagi setelah berlelah lelah kerja seharian atau menjalani perjalanan panjang. Kenikmatan yang 'ultimate' yang sulit diungkapkan dengan kata kata.

Hal ini juga bisa dirasakan dalam term lain yang bukan hanya soal makanan, ketika kita merasa sangat puas dan 'fullfill' ketika kita memberi pada orang lain, apalagi memberi di saat saat musim 'kering', ketika kita dengan tulus menolong orang lain yang tidak kita kenal tanpa menyisakan rasa menyesal.  

Ya itulah sebenar benar nya ikhlas, ketika diawali dengan ketulusan  hingga akhirnya bisa menikmati setiap tetes terakhir dari apa yg kita berikan, kepuasan setelah berbuat baik. 

Ibarat ketika akan menjalani perkawinan, memberikan mahar (mas kawin) tentunya yang terbaik yang bisa diberikan untuk calon istri. Tentunya tanpa berharap balasan atau berfikir mas kawin suatu saat akan menjadi keuntungan bagi suami. Memberi tanpa berharap balasan, semua atas rasa kecintaan pada calon istri. Ketika kita sudah dengan tulus memberi pada calon istri, pada akhirnya Allah akan menganugerahkan rasa kenikmatan dan kepuasan karena hidup menjadi lengkap bersama pasangan.

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا

Dan berikanlah mas kawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaaan.
Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (mas kawin) itu dengan senang hati, maka 
terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati

Bila keikhlasan telah menghasilkan ketenangan dalam diri, maka jiwa kita akan muthmainah, hidup kita akan tenang. Ibarat kata 'hidup tenang walaupun tak punya uang'

Bagaimana cara mencapai ketenangan itu ?

Belajarlah melakukan semua dengan ikhtiar maksimal, melakukan sesuatu dengan kesungguhan. karena ketika ikhtiar kita sudah maksimal maka  akan akan melahirkan sikap tawakkal 

Jangan pernah menyimpan keinginan mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan dalam hal apapun: dalam kehidupan atau ketika ber ikhtiar, pun dalam beribadah

Jangan berharap mendapatkan balasan misalnya berhitung hitung ketika beramal 10 akan mendapat 1000 kali lipat, atau ketika bekerja berharap akan mendapat bonus dari pimpinan. Hal ini akan membuat kita akan berkeluh kesah ketika target atau harapan kita tak tercapai. 

Bangkitkan nilai rasa melakukan sesuatu dengan penghadapan penuh pada Allah, menganggap semua datang dari Allah dan kita tinggal menjalani dengan suka hati. 

Maka ketika kita telah ber tawakkal akan timbul rasa ikhlas. Tak akan mungkin ada keikhlasan yang sebenar benarnya bila tanpa ikhtiar maksimal dengan penuh ketulusan, tak berharap lebih pada yang kita lakukan. Buah dari keihlasan yang sesungguhnya itu kebahagiaan sejati.  

Contoh lainnya, dalam ibadah sholat malam, kita diuji rasa keiklasan kita, apakah akan konsisten bangun di saat terlelap untuk melaksanakan sholat malam. Apakah kita akan tetap ikhlas melakukan sholat malam meskipun kita tidak merasa 'imbalan' instan dari Allah seperti harta yang berlimpah atau keinginan tentang dunia yang dikabulkan. 

Jadi kunci dalam hidup adalah melakukan apapun dengan niat penghadapan pada Allah semata, bukan pada target pencapaian diri atau imbalan. Lakukan dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati, memindahkan  seluruh universe kepada Allah, semua berpusat di Allah saja. Maka Insya Allah kita akan merasakan kebahagiaan sejati dari upaya ketulusan kita. 

Susah? iya pasti susah.. tapi Allah kan katanya akan mendekat lebih dari sejauh cara kita mendekat. Bila kita merangkak mendatangi Nya maka Ia akan berlari menyambut kita. 

Belajar untuk tulus, hentikan sikap transaksional (bila aku begini, maka aku akan mendapat itu), bukankah itu cinta yang sesungguhnya?

Wallahu'alam bishowab

Comments