Allah yang maha cinta kasih - Al Ikhlas 2 (THE SERIES)

اَللهُ الصَّمَدُ Allah tempat meminta segala sesuatu (112:2) 
 As Shomad yang hanya muncul satu kali dalam Al Quran (dalam surat Al Ikhlas) adalah mengenai kebergantungan yang total pada Allah dengan laiknya bayi yang bergantung pada ibunya ketika sudah dilahirkan dan ketika masih dalam kandungan. 

 As Shomad adalah bagaimana kita bisa merasakan indahnya dalam kebergantungan pada Allah melalui mengenal sifat Allah yang Ar Rahman (Maha Kasih sayang) dan Al Ilm (maha Ilmu).

As Shomad adalah sebagai wujud dari asma Allah Ar rahman(maha kasih sayang), nilai rasa adalah seperti hubungan ibu dengan bayinya yang baru dilahirkan (kebergantungan dari sisi luar).

 Pasti dalam kehidupan kita sering merasakan kebingungan, kesulitan, didzalimi orang lain, tetapi  tapi hati kita tetap 'mendekap' Allah dan merasa ketenangan diri.

Semua manusia inginnya hidup tenang, bahagia, tidak merasa stress, nginnya kembali seperti  bayi yang merasa aman dan nyaman saat dipeluk dan disusui ibunya. 

Bagaimana kunci dalam menemukan Allah sebagai satu satunya tempat bergantung itu?

Salah satu Kuncinya adalah mewujudkan sikap rahmaniah atau penuh kasih sayang.

Ketika dilukai, disakiti, dan kesal harus melihat pada Allah yang maha cinta kasih, sehingga kita selalu cinta kasih pada siapapun, tidak membalas keburukan dari orang tersebut. Ketika diberi keburukan maka balasannya adalah kasih sayang. Rasul kesayangan Allah di awal masa berdakwah sering dilempari dan dihina namun ia  tetap tersenyum dan mendoakan.

 Di manakah rasa cinta kasih kita akan teruji ? 

Ketika kita berjalan sendiri maka belum teruji cinta kasih kita. Dalam mewujudkan kasih sayang kita harus bisa berjamaah, berlapang lapang dalam sebuah kelompok, mengisi kekosongan orang lain dan  merapikan barisan.

Kita adalah keping puzle bagi orang lain, melengkapi orang lain dalam sebuah jamaah/kelompok. Dalam sebuah jamaah/kelompok apakah itu kelompok dalam pekerjaan, kehidupan bertetangga, kehidupan berjamaah dalam sebuah mesjid atau pengajian tentu dalam setiap urusan masih banyak bolong dan kekurangan disana sini. 

Saat itulah kita diuji rasa cinta kasih kita pada sesama teman seperjalanan menuju visi yang dicita citakan. 

Sudah ikhlaskah pada kekurangan teman kita atau organisasi yang masih tertatih tatih - tentunya setelah berupaya dengan maksimal dalam mempersiapkan dan melaksanakan suatu kegiatan.

 Ikhlas akan muncul ketika kita sudah mengupayakan secara maksimal dan kemudian bergantung sepenuhnya pada Allah. 

Sudahkah kita memperlakukan teman yang terlihat lambat atau belum sesuai dengan cara berjalan kelompok kita dengan kritik yang penuh kasih sayang seperti laiknya seorang ibu memarahi anaknya yang makan eskrim kala sakit.

 Sudahkah kita seperti itu? 'memarahi' atas dasar kasih sayang dan bukan mengumbar emosi membabi buta?

Yuk di cek lagi, apakah ketika menemukan kelemahan teman, kita inginnya menjatuhkan, menjelekkan dan menghilangkan dia dari keberjamaahan?

Berhati hati dan tetap eling lan waspada supaya dalam berjamaah tidak mendzolimi orang lain, bisa melihat semut dalam kegelapan sehingga tidak terinjak. 

Jangan sampai urusan orang lain yang sedang berjuang dengan diri dan masalahnya dalam kehidupan berjamaah menjadi 'terinjak' oleh kita karena kita pun berada dalam kegelapan. Kita pun masih kesulitan dalam  mengingatkan teman dengan cara baik dan membangun dirinya menjadi lebih baik.

Saat kita mengingatkan teman dengan cara yang kurang tepat -karena saat itu kita pun sedang mempunyai masalah sendiri- maka akan diterima dengan kurang baik.  Niat baik yang pada akhirnya tidak tercapai karena syetan turut andil menghembus hembuskan emosi di kedua belah pihak.

 Nilai rasa lain dari As shomad  adalah dari sifat Allah yang Maha Ilmu. Ilustrasinya adalah seperti saat kita bergantung seperti bayi yang berada dalam kandungan, tidak berjarak dengan ibunya. Ketika di dalam kandungan semuanya mengalir tiada henti kepada sang bayi yang mendapat suplai gizi dari ibunya. 

Begitu pula nilai rasa dengan Allah, apapun yang dihadirkan Allah akan mengalir pada sang bayi, itulah saat manusia pada akhirnya menjadi ulil albab (dalam keadaan apapun selalu berzikir, bertafakur, memahami ayat semesta) .

 Allah yang  maha ilmu laiknya seorang ibu yang sangat menginginkan bayi dalam kandungannya, sehingga wujud kasih sayang nya mengalir dalam bentuk penjagaan dan selalu mengalir semua yang dibutuhkan sang bayi dan tak ada jarak. Maka kenalilah Allah yang Maha Ilmu. 

Bagaimana mengenal Allah yang maha ilmu?

Satu satunya cara adalah dengan memahami kitab Nya, menelisik Al Quran dan buatlah diri jadi penasaran mencari dan memahami ayat ayat Nya. Arahkan seluruh hidup mengikuti petunjuk Nya

 Selamat berkasih sayang dan berlapang lapang dalam sebuah majelis

Wallahu'alam Bis Showab 


Comments