![]() |
| Animasind.blogspot.com |
Seorang wanita termenung bermuram durja di pojok mushola kecil yang terletak di tengah gedung perkantoran.Yang biasanya ia terburu buru di waktu istirahatnya sholat sejenak kemudian bergabung dengan teman temannya untuk makan siang, entah mengapa saat ini ia hanya ingin diam, menyepi, merenung.
Ia bertanya tanya dalam hatinya mengapa ia selalu ditimpa kemalangan, kerugian dalam pekerjaan karena ditipu rekanan yang mengakibatkan ia nyaris dipecat dari pekerjaan, kemudian tetiba seluruh anggota keluarga didera penyakit , bergantian satu sama lain dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, belum masalah perasaannya yang sulit dikendalikan dan masalah masalah lain yang menghujani dirinya.
Ia menghela nafas, berusaha melepas rasa sesak di dadanya karena dihimpit berbagai kesulitan baik yang datang dari diri sendiri maupun dari berbagai urusan diluar dirinya. Tangannya yang sedang scrolling di layar handphone terhenti di sebuah ayat
إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (An Nashr :1)
Ah, macam apa pertolongan Allah dan kemenangan yang akan datang kepada aku ? batinnya dalam hati merindu pertolongan akan berbagai masalah yang sedang mendatangi hidupnya. Kembali berkecamuk sejuta kata yang diakhiri dengan 'Mengapa terjadi kepadaku ? Apa maksud Allah memberikan ini kepadaku?
Jangan jangan selama ini aku salah menangkap pertanda Nya, salah memahami maksud dari setiap kejadian di semesta kecilku yang Dia takdirkan kepadaku. Bisa jadi saat aku berdoa memohon pertolongan pun Allah sebenarnya sudah menjawab doa kita dengan cara Nya yang maha Indah yang aku tak faham bahwa itu adalah jawaban dari Nya . Atau bisa jadi selama ini akupun tidak mengenali masalah yang dihadirkan olehNya . Sekelebat pikiran itu menyelinap dalam dirinya.
Seperti sebuah bioskop yang memutarkan film kehidupan, flashback masalah yang dihadirkan kembali memenuhi pikirannya dan sebuah kesadaran mulai menyeruak
Duh Ya Allah, mengapa yang selalu terasa adalah rasa sedih luar biasa karena kehilangan kehilangan yang aku hadapi. Aku selalu berdoa memohon dihadirkan kembali hal yang hilang tersebut, dihadirkan kekasih yang lebih baik, dihadirkan barang barang yang lebih mahal atau pekerjaan yang memberi gaji lebih baik . Jangan jangan dunia yang transaksional menjadikan doa ku pun penuh 'pamrih'dan 'target' yang ingin dicapai.
Ia pun kembali tercenung sambil menyeruput kopi dalam tumbler yang mulai terasa dingin saat sebuah kunci jawaban mulai muncul.
Iya ya, masalah akan selalu hadir dalam kehidupanku, maka satu satunya cara mendapatkan pertolongan adalah memohon rasa sabar yang lebih, dada yang luas sehingga bisa menampung kemarahan dan kesedihan dari takdir takdir yang dihadirkan kepadaku.
Ia pun teringat kalimat sang Guru saat ia mempertanyakan mengenai masalah hidup yang rasanya tiada henti
Mendapat kemenangan atau penyelesaian akan urusan urusan di dunia ini dibutuhkan sebuah 'wadah yang kuat' , yang bisa mendampingi raga kita melalui kesempitan dan derita dengan tetap sabar dan tawakkal.
Sudahkah kita memperkuat wadah kita? Mungkin kita belum lulus dari setiap hal yang dihadirkan dengan masih bersimbah tangis tak berhenti atau kemarahan membuncah di dada karena wadahmu tak kunjung meluas sehingga pertolongan dan kemenangan tak kunjung menghampiri.
Mungkin memang aku tak siap untuk menerima kemenangan karena kembali terjebak dalam rasa diri yang kurang tepat.
Lalu tidak ada jalan lainkah ? berarti menunggu sampai kapan, mengingat diri ini selalu berjuang dan belum tentu menang akan urusan hati yang selalu terombang ambing.
Saatnya bertemu sang Guru...
Ia pun membereskan tasnya dan bergegas.
Sang Guru memahami keresahan hati muridnya, tetiba ia berkata tanpa wanita itu harus menjelaskan hal yang membuatnya gundah gulana
Allah akan menurunkan urusan (amr) kepada kita karena bisa jadi kita sendiri tidak memahami penyakit hati apa yang masih kita pelihara dan semakin membesar, anakku. Urusan yang Allah turunkan pada prinsipnya adalah untuk membantu mengeluarkan semua hal buruk dalam diri'".
Seperti dalam kisah Nabi Isa saat ia menawarkan pada murid muridnya apakah bersedia menjadi penolong Allah, melanjutkan perjuangan nabi Isa meskipun dalam hati mereka masih banyak mengandung penyakit dan kekotoran.
Murid murid yang mengikutinya bersedia berjuang melanjutkan dakwah sang nabi meskipun perjuangan untuk berjalan di jalan Nya sambil membersihkan diri adalah perjuangan yang cukup berat.
Demikian juga saat kita didera kemalangan, jangan terus menerus menyesali diri dan memelihara kecewa. Coba direnungkan apakah Allah tiba tiba menurunkan urusan baru (Amr) kepadamu melalui orang lain?
Meskipun tidak pede, merasa tidak mampu melakukannya, dan penuh dengan lika liku tanamkan dalam diri untuk memberanikan diri melakukan amr tersebut. Keberanian untuk mengambil peran adalah jalan proses untuk membersihkan diri dan pada akhirnya akan mendapat kemenangan , meskipun bisa jadi ada satu titik kita mengorbankan diri laiknya seorang martir.
Misalnya meskipun engkau sedang dalam kesulitan keuangan, berada dalam kesedihan karena masalah di keluargamu namun ketika datang permohonan pertolongan dari teman temanmu misalnya untuk bersama sama menjadi relawan dalam kegiatan berbagi ilmu yang memerlukan pengorbanan waktu dan perlu mendobrak rasa tidak percaya dirimu untuk berbagi ilmu, tetap lakukanlah. Karena seberapa banyak pengorbananmu atas waktu dan mendobrak diri itu akan menjadi proses pembersihan.
Siapkah engkau memasuki sebuat hal baru yang bisa jadi membuatmu semakin dipersulit atau didera masalah baru misalnya dengan bergabung dalam kegiatan menjadi relawan akan membuat atasan semakin kesal karena waktu yang menjadi semakin terbagi atau dianggap tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan.
Percayalah saat Allah memberi urusan baru selama urusan itu dalam kebaikan, pada prinsipnya adalah memberi jalan kepadamu untuk melakukan pembersihan diri, berlatih menjadi ikhlas dan sabar hingga engkau akan sampai pada satu titik saat pertolongan dan kemenangan akan datang kepadamu, nak...
Wallahuálam Bisshowab
pic : Animasind.blogspot.com

Comments
Post a Comment