Menjadi Pengabdi Sejati




Berjuta puisi dilontarkan di media sosial, kata kata indah mengenai betapa kita telah menjadi pengabdi kepada Allah semata terlontar dengan mudah saat kita berbincang. 

Pernahkah menelisik dan meragukan diri, betulkah kita sudah menjadi pengabdi sejati untuk Dia? Apakah tanda bahwa kita betul betul sudah menjadi pengabdi sejati?

Lihat lagi ke kedalaman hati dan nurani kita, jangan jangan kriteria sang pengabdi sejati itu masih sangat jauh dari diri kita.

Tidak ragu akan Dia 

Seperti halnya orang yang mencinta dan menjadi bucin alias budak cinta, tidak pernah ada keraguan kepada kecintaannya. Tidak pernah ada sedikitpun rasa cemas, berprasangka buruk akan maksud dari perlakukan kekasih kepadanya .  

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah agar termasuk orang yang beriman,” (Yunus : 104)

Ketika kita tidak yakin bahwa Allah maha pemberi rizki, maha menghidupkan dan mematikan yang tercermin dalam keluh kesah saat ATM kosong atau saat sakit yang tak kunjung sembuh, maka menjadi pengabdi sejati kepada Nya itu masih di angan angan dan sekedar kalimat indah di sosial media. 

Situasi yang Allah hadirkan dalam hidup yang membuat kita merasa terjepit dan merasakan kiamat kecil ditambah dengan logika kita yang tidak bisa menemukan jalan keluar, maka saat itulah kita masih meragukan kehadiran Nya dalam hidup. Allah masih disimpan di ketinggian, tidak menjadi bagian dari kehidupan. Allah belum dihadirkan menjadi bagian terpenting dari penentu takdir hidup kita sehingga kita mudah mengeluh dan berkeluh kesah.  

Mengabdi tanpa banyak tanya

Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? (Yasin:22)

Pengabdi sejati itu tidak banyak tanya saat diperintahkan oleh yang dicintainya. Saat kita terlalu banyak mempertanyakan mengapa harus melakukan sholat, puasa, mengapa harus menjadi orang yang ikhlas, nrimo ing pandum, maka saat itu kita masih 'menolak' Allah yang katanya kita cintai. 

Jiwa seorang pengabdi sejati tidak perlu mencari alasan selain kecintaan untuk menjadi taat dan mengabdi. Ingat ingat saja saat kita mabuk cinta, tidak ada yang mendorong kita melakukan kebaikan kepada kekasih kita kecuali kecintaan itu sendiri. Bahkan bayaran pahala pun bukan menjadi alasan utama bagi pengabdian.  

Sungguh menjadi pengabdi sejati seperti Rabiáh Al -Adawiyah itu masih sangat langka ditemukan di dunia yang transaksional 

Äku tidak menyembah Allah karena takut akan neraka, tidak juga karena mengharap surga. Jika aku menyembah Nya karena takut neraka atau mengharap surga, maka aku seperti buruh yang buruk bekerja karena rasa takut. Aku menyembah Nya karena cinta dan rindu kepada Nya

Menikmati menjalani ketaatan 

Saat mengabdi kepada Nya sudah terasakah rasa nikmat, ikhlas seperti laiknya ketika kita menikmati makanan yang super enak saat kuliner ? itu yang disebut Ponyo, menikmati setiap remah makanan sampai bahkan tanganpun dijilat jilat supaya tidak kehilangan rasa nikmat sampai tetes bumbu terakhir. 

Menjadi pengabdi sejati adalah menjalani apapun yang Dia berikan dengan penuh rasa ponyo bahkan menjalani hal yang tidak mengenakkan sekalipun. Amati saja diri sendiri, apakah kita menjalankan setiap peribadatan dengan penuh kenikmatan, tidak terburu buru karena diburu dunia.

Pernahkah kita melebihkan zakat yang kita gelontorkan tanpa merasa berat dan penuh perhitungan? 

Memang berat saat membuktikan bahwa saya adalah pengabdi sejati kepada Nya saat menjalani setiap takdir yang terasa buruk dan berat dengan penuh keiklasan. Sulit mengkondisikan pikiran dan perasaan untuk memahami bahwa apapun yang Allah turunkan kepada kita untuk membawa kita semakin mendekat kepada Nya. 

Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Azzumar 14)

Tidak mengerjakan sesuatu tanpa pengetahuan 

 “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (Azzumar :64)

Tentunya menjadi pengabdi sejati perlu memiliki ilmu dan pengetahuan akan yang dicintainya karena saat tidak berilmu kita bisa saja digelincirkan oleh syetan melalui logika yang menyesatkan. Salah satu fungsi dari ilmu yang dimiliki agar kita dapat memahami berbagai aturan dalam peribadatan agar kita tidak salah dalam mengenal Allah. 

Percayalah, saat kita sudah ponyo dalam peribadatan maka saat itu kita akan mendapat pengetahuan dengan sendirinya. 

 

Wallahu’alam bis showab


Picture copyright 

Kalam.sindonews.com

Comments