Hati hati dengan Jumawa...

Freewalpaper.com


Kadang suka lupa merasa bahwa apapun keberhasilan yang kita dapatkan di dunia atas upaya kita sendiri. Sering dalam hati merasa jumawa, karena kepintaran saya maka saya menjadi juara terus, karena kerja keras saya yang bagai kuda maka kekayaan bertambah terus 

'Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya harta dan apa yang dia usahakan (QS Al lahab 1-2)

Waspadai  jangan jangan kita ini versi lain Abu Lahab yang merasa kedua tangan kita penyebab keberhasilan segala usaha dan pada akhirnya 'dibinasakan'. Tidak berguna semua harta dan anak yang diupayakan bila tidak dihubungkan dengan Allah sumber segala sumber. 

Maka pangkalnya kebinasaan karena lepasnya keterhubungan dengan Allah atas semua amal perbuatan kita dan apa yang dimiliki, ujung ujungnya segudang harta 7 turunan, prestasi mendunia akan menjadi bahan bakar di neraka nanti. Nauzubillahimindzalik

Gimana dong menjaga kehidupan supaya niatnya tetap untuk Allah, tidak dikotori berbagai bisikan ujub dan pede yang sering menyelinap dalam diri ?

Salah satu tipsnya sering sering meresapi arti dari la hawla wala kuwwata Illa Billah dengan menjaga semua amal perbuatan dihubungkan dengan Allah Al hawla kekuatan dalam dan luar diri,  sumbernya hanya dari Allah. 

Mustinya kita merasa malu saat menggunakan harta yang dimiliki karena pada prinsipnya itu milik Allah dan kita sebagai hamba hanya perlu mengambil secukupnya. 

Kadang dalam keseharian kita merasa berjasa baik pada keluarga, pasangan , di masyarakat atau di tempat kerja. Merasa bahwa kita lah yang banyak membantu keluarga atau pasangan, menjadi elemen kesuksesan pencapaian prestasi kantor atau saat bekerja di masyarakat. 

Pada akhirnya menjadi jumawa dengan sering melontarkan kalimat 'kalau ga ada aku kan belum tentu pekerjaan ini beres' 'Kalau tak ada saya keluarga ini ga akan bisa lepas dari hutang piutang' atau 'kalau aku tak ada, mana mungkin istri bisa hidup nyaman dengan segala fasilitas yang aku dapatkan dari bekerja keras'

Saat jumawa ini akhirnya berimbas pada prilaku kita, merasa harus mendapat penghormatan dari orang lain karena jasa kita. Merasa bahwa bukan kewajiban saya sebagai suami ikut beres beres rumah karena itu tugas istri, merasa bahwa bisa memutuskan sendiri banyak hal untuk keluarga besar dan tidak menganggap penting pendapat saudara yang lain. Saat itulah 'kebinasaan'akan ditimpakan sejak di dunia.  

Istri yang karena suami yang tidak mau membantu pekerjaan kecil di rumah sehingga bermuram durja, tidak merasa nyaman dan membuat suasana rumah akhirnya hanya seperti dua orang yang melakukan tugas masing masing tanpa terpancar kasih sayang yang menyejukkan. 

Suasana kantor yang tidak akrab dan nyaman karena semua orang melihat kita menjadi pimpinan yang gila hormat sehingga di depan terlihat baik baik saja

Mumpung Allah masih memberi umur, memberi kesempatan, maka saatnya kita banyak berdoa dan memohon ampun dari api neraka 

Ya Allah saya pernah menikmati hal yang saya anggap usaha saya, memohon pembebasan dari sumber kebinasaan karena lupa bahwa segala sumber itu 'hanya dari  Engkau saja

 

Wallahuálam bis showab

Comments